SELEBRITI
13 Agustus 2019

Anak Fairuz A Rafiq Di-bully di Sekolah, Ini 5 Hal yang Harus Dilakukan Orang Tua saat Anak Di-bully

Meskipun kesal, Moms sebagai orang tua tidak boleh melawan balik ya

Sumber: Instagram.com/fairuzarafiq

Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Kabar buruk tidak henti-hentinya menimpa keluarga Fairuz A Rafiq dan Sonny Septian akibat masalah "ikan asin". Kali ini, anak mereka, King Faaz, yang terkena dampak buruknya.

Anak mereka di-bully karena masalah tersebut bahkan hingga menangis. Sonny Septian meski merupakan ayah sambung tidak tinggal diam.

Sonny mengamuk dan tidak habis pikir dengan banyak oknum yang menjadikan masalah ini sebagai panggung untuk mencari ketenaran.

Bully terhadap anak-anak memang kerap terjadi, sebagai orang tua, apa sih yang harus dilakukan saat anak kita ternyata yang di-bully? Yuk cari tahu di bawah ini Moms!

Baca Juga: Tak Ikuti Jejak Orang Tua, Ini 5 Anak Artis yang Jadi Atlet

1. Bully adalah Masalah Serius

bullying

Melansir CNN, sebuah penelitian di Amerika Serikat menyebutkan kalau bully adalah masalah kesehatan yang serius.

Apalagi bully terhadap anak-anak, berdasarkan penelitian tersebut, tidak hanya berdampak pada kinerja akademik, namun juga kesehatan fisik dan mental anak.

Selan itu, intimidasi pada anak-anak juga menyebabkan depresi dan kegelisahan dan penyebab penyalahgunaan alkohol dan narkoba hingga dewasa.

Efek berbahaya dari intimidasi menampakkan diri secara fisik pada anak-anak dan remaja dengan mengganggu tidur mereka, menyebabkan masalah pencernaan dan sakit kepala.

Para peneliti juga memperhatikan bahwa intimidasi menyebabkan perubahan dalam sistem respons stres otak, yang memengaruhi fungsi kognitif dan emosi yang mengatur diri sendiri.

Anak-anak yang diintimidasi serta mereka yang menggertak orang lain lebih mungkin untuk merenungkan atau mencoba bunuh diri.

Oleh karena itu, Lauren Hyman Kaplan, seorang penasihat sekolah dan spesialis dalam pendidikan sosial-emosional dan pencegahan intimidasi mengatakan, orang tua harus bisa mencari tahu apa yang terjadi agar gejala-gejala intimidasi yang dihadapi anak-anak bisa dihadapi bersama-sama.

Baca Juga: Ringgo Agus Rahman Ultah ke-37, Ini Transformasinya Sampai Jadi Seorang Ayah

2. Membantu Pem-bully dan yang Di-Bully

bullying

Memberikan pelajaran emosional kepada pem-bully dan anak yang di-bully akan sangat membantu anak-anak dan remaja untuk mengatus emosi mereka.

Ditambah lagi mengajarkan mereka membangun empati dan mengidentifikasi perbedaan antara menggoda dan intimidasi.

Ini dapat digunakan bersamaan dengan program yang lebih intensif yang ditujukan untuk anak-anak yang sudah terlibat dalam bullying, sebagai target atau pelaku.

"Anak-anak perlu diajarkan keterampilan ini seperti matematika dan sains," kata Catherine Bradshaw, seorang psikolog perkembangan dan peneliti pencegahan kekerasan remaja.

Tetapi Bradshaw juga mengatakan ada lebih banyak ruang untuk memanfaatkan inovasi dan teknologi untuk mengidentifikasi dan mencegah bullying dengan lebih baik.

3. Jangan Melawan Balik

bullying

Orang tua tentu akan sakit hari dan punya perasaan ingin mengajarkan si anak untuk melawan saat tahu anak mereka dirundung.

Namun bukan berarti orang tua boleh mengajarkan anak melawan temannya yang mem-bully dengan hal yang sama. Kekerasan bukanlah jalan keluar.

Orang tua harus mampu mengajarkan anak-anak agar berbuat tegas bila ada orang yang melakukan perundungan padanya. Misalnya melaporkan kepada pihak sekolah dan pastikan anak-anak aman dari teman yang mem-bully, serta biarkan mereka tahu apa yang harus dilakukan bila mendapat perlakuan tidak menyenangkan lagi.

Tidak ada salahnya memisahkan antara anak dengan teman yang sering mem-bully.

Baca Juga: Tengok Keseruan 5 Keluarga Artis Merayakan Idul Adha!

Jangan emosi dahulu ya Moms! Coba bantu Si Kecil melewati masa sulitnya saat dirinya dirundung oleh kakak kelas maupun teman seusianya.

(TPW)

Artikel Terkait