PARENTING
18 Juli 2019

Ketika Daycare jadi Pilihan Satu-satunya dan Ternyata Memang yang Terbaik

Tak mau pusing dengan drama ART yang konon tiada habisnya, dan tidak bisa terus menitipkan anak pada orang tua, maka daycare jadi pilihan terbaik.
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Prita Apresianti

Sharing dari : Imelda Suryaningtyas, Mom dari Gendhis Malaika, (5 tahun)

Saking seringnya mendengar curhatan teman-teman dan adik saya sendiri seputar kelakuan baby sitter mereka – termasuk drama baby sitter yang tak kunjung kembali setelah mudik Lebaran, bahkan sebelum hamil pun, saya dan suami memutuskan tidak akan menggunakan jasa baby sitter untuk menjaga anak kami kelak. Selain karena tidak mau tambah sakit kepala dengan urusan gonta-ganti baby sitter, kami pun ingin 100% terlibat dalam proses pengasuhan dan tumbuh kembang anak, meskipun sama-sama clueless dengan urusan mengasuh bayi.

Usai Cuti Melahirkan

IMG_5082.jpeg

Selama 3 bulan cuti melahirkan, saya dan suami bersama-sama belajar mengasuh Gendhis, putri kami, dibantu oleh ibu saya, yang kebetulan tinggal tak terlalu jauh dari rumah kami. Menyenangkan sekali, apalagi kami berdua menunggu sampai 5 tahun dan sampai harus menjalani proses IVF demi mendapatkan bayi mungil yang begitu menggemaskan ini.

Namun, usai cuti habis, kami harus langsung siap menghadapi realita. Kami berdua adalah pekerja full time, setelah cuti melahirkan saya selesai, tentu saja harus ada yang menjaga Gendhis. Tetap kekeuh tidak mau menggunakan baby sitter, pilihan satu-satunya, ya, daycare. Terus terang, kami tidak yakin sebenarnya dengan opsi tersebut. Menitipkan bayi kecil di tempat asing dengan orang asing. Hmmm… nggak tega, ya. Tapi, kami juga merasa tidak enak kalau harus menitipkan Gendhis ke ibu saya, yang juga harus merawat Ayah yang sakit. Mana tidak ada ART pula. Nah, ibu saya itu memang dari dulu tidak pernah menggunakan ART. Semua dikerjakan sendiri. Mungkin itu juga yang membuat saya kurang sreg dengan kehadiran baby sitter, karena seperti ada orang asing di rumah sendiri. Tidak terbiasa saja.

Proses Hunting yang Panjang

image_6483441.JPG

Anyway, setelah browsing sana-sini, membaca berbagai blog dan percakapan di forum ibu-ibu muda, saya dan suami pun memantapkan diri untuk menitipkan Gendhis di daycare. Apalagi, ada sejumlah teman sekantor juga yang sharing pengalaman positif mereka menitipkan anak di daycare. Siapa tahu Gendhis akan bisa lebih mandiri dan tidak manja. Lagipula, dia memang perlu bergaul dengan teman-teman seusianya dan bersosialisasi. Kondisi lingkungan rumah ibu saya yang tidak terlalu banyak anak kecil, bisa jadi tidak memungkinkan Gendhis banyak bergaul dengan anak-anak seusianya.

Ibu saya kelihatan keberatan dengan keinginan saya dan suami menitipkan Gendhis, yang saat itu baru berumur 3 bulan, di daycare. Dia pun berusaha meyakinkan kami bahwa Gendhis tidak akan menjadi beban bagi dirinya. “Masih bayilah, nggak terlalu gerak ke sana ke mari. Kamu pulang kantor juga nggak malam-malam banget, kan. Sudah Mama yang jagain saja,” begitu alasan yang ibu saya kemukakan. Karena memang belum sempat pula mensurvei satu per satu daycare yang jaraknya tak terlalu jauh dari kantor saya – maksimal radius 5 kilometer, yang masih bisa dicapai dengan ojek paling lama 10 menit, bahkan jalan kaki, saya dan suami memutuskan menunda dulu menitipkan Gendhis.

Saatnya Tiba, Gendhis Masuk Daycare

IMG_4425.jpeg

Setidaknya, sampai dia berumur 2 tahun. Begitu Gendhis sudah lebih aktif bergerak, membutuhkan lebih banyak stimulus maupun variasi makananan serta kegiatan untuk tumbuh kembangnya, dan sosialisasi dengan teman-teman sebaya, menitipkan dia di daycare pun tak bisa lagi ditawar. Ibu saya juga menyerah, meski masih tetap terlihat tidak rela cucunya dititipkan selama setengah hari di tempat asing dengan orang-orang asing.

Selama Gendhis dititipkan di “daycare Oma”, saya dan suami bergerilya mendata daycare apa saja yang searah kantor saya, dan berlokasi di area seputaran kantor saya juga. Infonya cukup mudah kami dapatkan lewat internet. Untuk skrining awal, kami mengandalkan review di blog dan forum ibu-ibu muda di dunia maya tentunya. Daycare pilihan teman-teman kantor pun jadi pertimbangan. Setelah itu, waktunya mensurvei satu per satu shortlist tersebut dan membandingkan satu daycare dengan yang lain.

Yang jadi pertimbangan saya dan suami, selain searah dengan kantor saya dan jaraknya dekat (paling penting, biar kalau ada apa-apa, saya bisa dengan mudah menjemput Gendhis, tidak kehabisan energi dan kesal karena kemacetan Jakarta), adalah kondisi fisik daycare-nya. Rumah, unit apartemen, atau sudut gedung perkantoran tidak jadi masalah buat kami, asal memiliki sirkulasi udara dan pencahayaan ruangan yang bagus.

Ada satu daycare yang berlokasi di basement sebuah gedung perkantoran, bersebelahan dengan area parkir gedung. Meski lampunya terang dan full AC, tapi begitu keluar pintu daycare, udara yang akan dihirup anak saya bisa jadi sudah bercampur baur dengan asap kendaraan yang keluar masuk area parkir, plus pemandangan yang selalu dia lihat dari jendela daycare pun hanya mobil-mobil. Seminggu sekali anak-anak memang akan diajak bermain di taman gedung perkantoran, tapi taman itu berada di area yang terlalu terbuka. Bagaimana kalau si pengasuh pas meleng, dan anak saya nyelonong keluar taman tanpa sepengetahuannya? Ah… saya tidak mau ambil risiko. Coret! Kondisi lampu dan suasana daycare yang suram juga langsung bikin kami mencoret suatu daycare dari list.

Sementara suami saya, lebih memerhatikan soal sistem keamanan dan prosedur daycare menghadapi bencana. Ada di lantai berapa lokasinya di gedung apartemen atau perkantoran? Dan akses ke daycare bagaimana? Hanya ada lift, atau ada tangga juga? Bagaimana akses ke tangga darurat dan bentuknya? Berapa jarak daycare dengan tangga darurat? Apakah ada latihan gempa atau kebakaran yang rutin dilakukan? Seperti apa evakuasi anak-anak dalam keadaan darurat? Kelengkapan keamanan dan bencana apa saja yang ada? Daycare yang menurut dia tidak jelas soal keamanannya, pasti dicoret. Oh iya, soal siapa saja yang bisa menjemput anak di daycare juga sangat penting buat kami. Daycare yang tidak terlalu cermat membatasi penjemput anak, tentu langsung dieliminasi.

Setelah hal-hal di atas, kami pun mempertimbangkan cara para pengasuh daycare mengajarkan Gendhis soal kemandirian, disiplin, dan toilet training, serta memberikan variasi aktivitas untuk mendukung tumbuh kembangnya. Karena meski semua itu tanggung jawab kami sebagai orang tua Gendhis, namun pekerjaan kantor pasti akan menyita waktu juga, sehingga kami tak akan bisa 100% melakukannya untuk Gendhis. Perlu daycare yang cara mendidik dan mengasuhnya sejalan juga dengan kami dan kemauan kami.

Yang tak kalah penting, perbandingan jumlah anak dengan pengasuh, dan latar belakang para pengasuh. Idealnya, 1 pengasuh menangani 2-3 bayi, atau 3-4 anak yang lebih besar. Lebih dari itu, pasti anak-anak tidak bisa ditangani dengan baik. Belum lagi kalau ada anak yang sakit.

Hasilnya? Kami Puas dan Happy!

IMG_0723.jpeg

Mahal? Banget! Tapi less drama! Saya tidak perlu setiap beberapa jam menelepon pengasuh untuk mengetahui kondisi anak saya atau mendikte apa saja yang perlu dilakukan dalam sehari agar Gendhis tidak hanya menonton TV, main gadget, atau main terus di luar tanpa tidur siang. Karena begitu ada yang tidak beres pada Gendhis, seperti suhu badannya yang di atas normal, atau hidungnya tiba-tiba berdarah dan dia muntah tanpa sebab, daycare akan langsung menelepon saya untuk menginformasikan keadaan Gendhis, dan menanyakan apakah Gendhis bisa diberi obat tertentu atau akan dijemput pulang saja (kebanyakan saya akan langsung menjemput Gendhis, sih).

Tidak ada telepon, berarti Gendhis baik-baik saja, dan saya maupun suami bisa tetap fokus pada pekerjaan kami hari itu, dan segera menyelesaikannya agar bisa cepat menjemput Gendhis di daycare. Paling kami tinggal membaca catatan pengasuh di agenda harian Gendhis, atau mendengar langsung laporan si pengasuh saat kami menjemput di sore hari. Siap-siap saja, sih, membaca atau mendengar laporan Gendhis sudah bisa tidur siang tanpa mengompol, meski tidak pakai popok lagi. Atau, laporan Gendhis menggigit tangan salah seorang temannya, karena kesal diganggu terus oleh anak itu saat bermain bersama. *tepok jidat*


Ya, Gendhis memang jadi harus ikut bangun pagi-pagi karena waktu perjalanan dari rumah kami ke daycare bisa mencapai 1 jam. Sementara di sore hari, dia juga harus menembus kemacetan Jakarta selama 1,5 – 2 jam untuk kembali ke rumah setelah kami jemput usai pulang kantor. Tapi waktu 2,5 – 3 jam di mobil tersebut setiap hari bisa kami manfaatkan untuk ngobrol, bertanya dan bercerita banyak hal tentang kegiatan kami masing-masing, ngemil, bercanda, nonton DVD, atau menyanyi bersama. Sejak dia masih belum terlalu lancar bercerita, hingga sudah 3 tahun dititipkan di daycare dan tumbuh jadi anak yang cukup cerewet!

Seandainya Gendhis tinggal saja di rumah ibu saya, atau bersama dengan babysitter di rumah, bisa jadi kami malah jarang bertemu dan berinteraksi. Karena pagi-pagi, ketika saya dan suami ngantor, mungkin Gendhis malah belum bangun tidur, dan ketika kami tiba kembali di rumah, dia sudah tidur. Kalaupun masih bangun, mungkin saya yang sudah kelelahan dan tidak punya energi lagi untuk bermain dengan Gendhis.

In the end, saya dan suami merasa keputusan kami untuk menitipkan Gendhis di daycare memang yang terbaik bagi Gendhis maupun kami berdua. Dia tumbuh dan berkembang dengan baik, pergaulan dan sosialisasinya dengan teman-teman sebaya pun oke. Kemandirian dan kedisiplinannya, sih, kadang tidak terlihat saat di rumah. Sesekali, dia masih minta disuapi – walau laporannya, Gendhis selalu pintar makan sendiri selama di daycare. Tapi, mungkin itu caranya minta perhatian dari kami, ya.

Artikel Terkait