2-3 TAHUN
31 Maret 2020

3 Pengaruh Gadget pada Perkembangan Otak Balita

Kira-kira pengaruhnya positif atau negatif?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Para ahli sudah sering mengingatkan tentang penggunaan gadget yang sehat bagi anak balita. Dikutip dari situs web CNN, salah satu alasannya adalah para ahli mengkhawatirkan pengaruh gadget pada perkembangan otak balita.

Sebuah studi yang dimuat di jurnal Journal of the American Medical Association (JAMA) Pediatrics mengamati otak anak usia 3-5 tahun. Hasilnya, perkembangan area putih (white matter) pada otak anak yang menggunakan gadget lebih dari satu jam dalam sehari dan tanpa didampingi orang tua, lebih rendah.

Area putih adalah bagian otak yang berperan dalam perkembangan bahasa, literasi, dan kognitif.

“Otak berkembang sangat cepat pada lima tahun pertama hidup manusia,” kata Dr. John Hutton, dokter spesialis anak dan pimpinan studi dari Cincinnati Children’s Hospital.

“Segala informasi yang diterima otak pada kurun waktu itu akan cepat dan mudah diserap, dan menciptakan koneksi yang kuat dan akan mempengaruhi hidup manusia selamanya,” tambah Hutton.

Baca Juga: 4 Panduan Balita Menggunakan Gadget dengan Bijak

Oleh karena itu, ia dan timnya berusaha meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan otak pada periode tersebut dan pengaruh gadget pada perkembangan otak balita.

Pengaruh Gadget pada Perkembangan Otak Balita

Agar lebih jelas, yuk, Moms, ketahui seperti apa pengaruh gadget pada perkembangan otak balita.

1. Perkembangan Bicara Terlambat

speech-therapist-which-is-best-for-my-child.jpg

Foto: Child Development

Salah satu studi yang menemukan indikasi ini dilakukan oleh Catherine Birken, dokter spesialis anak dan ilmuwan dari Hospital for Sick Children di Toronto. Antara 2011 dan 2015, ia mengamati 900 anak usia 6-24 bulan dan paparan mereka terhadap gadget.

Sekitar 20 persen anak pada usia 18 bulan menggunakan gadget rata-rata 28 menit per hari. Anak-anak yang menggunakan gadget lebih lama dari itu cenderung memperlihatkan tanda-tanda keterlambatan bicara, seperti sulit menyuarakan kata.

Baca Juga: 3 Aturan Membolehkan Balita Menggunakan Gadget

2. Kesulitan Bersosialisasi

makepop1-copy.png

Foto: Freemake

Bagian depan otak (lobus frontal) berfungsi menangkap informasi dan memahami maknanya, serta memahami interaksi sosial. Masa kritis perkembangan lobus frontal adalah pada periode usia dini, dan sangat tergantung pada interaksi antarmanusia.

Anak yang terlalu sering bermain gadget ketimbang bermain dengan sebayanya atau berinteraksi dengan orang lain, nantinya akan kesulitan dalam bersosialisasi.

3. Kesulitan Berempati

01rT6jpitXAHXGcuSkPaOLE-1..v_1569492797.jpg

Foto: PC Mag

Lobus frontal juga berperan penting dalam mengembangkan kemampuan anak membaca isyarat nonverbal, seperti ekspresi wajah, nada bicara, dan lain-lain. Kemampuan tersebut diperlukan untuk bersosialisasi dan mengembangkan empati.

Bila kemampuan tersebut tidak dilatih atau dirangsang, maka ke depannya Si Kecil akan kesulitan mengembangkan kemampuan berempati. Dampak dari pengaruh gadget pada perkembangan otak balita ini, menurut para ahli, bisa berlangsung hingga anak dewasa.

Baca Juga: 3 Cara Menenangkan Balita Tantrum Tanpa Perlu Memberikan Gadget

Yang perlu dipahami oleh orang tua, kebiasaan anak menggunakan gadget dipengaruhi oleh kebiasaan keluarganya dalam menggunakan gadget.

“Anak yang menggunakan gadget selama lima jam dalam sehari, biasanya memiliki orang tua yang terbiasa menggunakan gadget selama sepuluh jam dalam sehari,” terang Hutton. Hal itu menandakan minimnya interaksi antara anak dan orang tua di dalam rumah.

Untuk menghindari pengaruh gadget pada perkembangan otak balita yang tidak diinginkan, orang tua perlu menetapkan batas waktu penggunaan gadget bagi Si Kecil.

Rekomendasi penggunaan gadget dari World Health Organization (WHO) untuk anak usia 2-5 tahun adalah maksimal satu jam dalam sehari.

(AN)

Artikel Terkait