KEHAMILAN
8 Februari 2020

4 Bahaya Obesitas pada Ibu Hamil, Moms Harus Waspada!

Pahami risiko obesitas sekaligus penanganannya untuk kehamilan yang sehat
Artikel ditulis oleh Waritsa Asri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Moms, tentu telah merencanakan kehamilan dengan segala cara yang mungkin. Kehamilan, memang suatu yang menyenangkan akan tetapi hal tersebut dapat berubah menjadi dilema apabila berat badan Moms sudah berlebih.

Lantaran, kenaikan berat badan memiliki keterkaitan dengan Si Kecil dalam kandungan.

Dilansir dari The American College Obstetricians and Gynecologist, Kelebihan berat badan didefinisikan sebagai memiliki indeks massa tubuh (BMI) 25-29,9.

Obesitas didefinisikan sebagai memiliki BMI 30 atau lebih besar. Dalam kategori umum obesitas, ada tiga tingkatan yang mencerminkan peningkatan risiko kesehatan seiring dengan peningkatan BMI:

  • Risiko terendah adalah BMI 30-34,9.
  • Risiko sedang adalah IMT 35,0-39,9.
  • Risiko tertinggi adalah BMI 40 atau lebih besar.

Atau bila Moms penasaran masuk kategori yang mana bisa mengunjungi langsung ke National Heart, Lung, and Blood Institute, untuk bisa mengetahui apakah masuk kategori rendah atau tinggi alias obesitas lewat kalkulator indeks massa tubuh.

Baca Juga: Penuhi Gizi Ibu Hamil Agar Tak Alami Obesitas

Bahaya Obesitas pada Ibu Hamil

Kemudian, apabila Moms berada di risiko tertinggi yaitu obesitas apa bahayanya? Berikut ini bahaya obesitas pada ibu hamil berdasarkan artikel yang diterbitkan Royal College of Obstetricians and Gynaecologist:

1. Trombosis

Bahaya obesitas bagi ibu hamil

Foto: Orami Photo Stock

Bahaya obesitas pada ibu hamil yang pertama adalah trombosis. Apabila Moms terindikasi dengan obesitas, bisa jadi terkena trombosis. Trombosis adalah gumpalan darah di kaki Anda (trombosis vena) atau di paru-paru Anda (emboli paru).

Ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi terkena pembekuan darah dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. Jika BMI Anda 30 atau di atas, risiko pembekuan darah di kaki Anda juga meningkat.

2. Diabetes Gestasional

Gestational-Diabetes-Hero.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Bahaya obesitas pada ibu hamil yang selanjutnya adalah diabetes gestasional. Diabetes yang pertama kali didiagnosis dalam kehamilan dikenal sebagai diabetes gestasional.

Jika BMI Anda 30 atau di atas, Anda tiga kali lebih mungkin menderita diabetes gestasional daripada wanita yang BMI-nya di bawah 30.

3. Tekanan Darah Tinggi dan Preeklamsia

menurunkan tekanan darah.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Bahaya obesitas pada ibu hamil yang selanjutnya adalah tekanan darah tinggi dan preeklamsia. BMI 30 atau lebih meningkatkan risiko terkena tekanan darah tinggi.

Preeklamsia adalah suatu kondisi dalam kehamilan yang berhubungan dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan protein dalam urin Anda (proteinuria).

Jika Anda memiliki BMI 35 atau lebih di awal kehamilan Anda, risiko preeklampsia Anda dua kali lipat dibandingkan dengan wanita yang memiliki BMI di bawah 25.

4. Sleep Apnea

sleep apnea 2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Bahaya obesitas pada ibu hamil yang selanjutnya adalah sleep apnea. Terakhir, obesitas pada ibu hamil akan menyebabkan sleep apnea adalah suatu kondisi di mana seseorang berhenti bernapas untuk waktu singkat selama tidur. Kondisi ini pun dikaitkan dengan obesitas.

Selama kehamilan, sleep apnea tidak hanya dapat menyebabkan kelelahan tetapi juga meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, preeklampsia, eklampsia, dan gangguan jantung dan paru-paru.

Baca Juga: Apa Benar Ibu Hamil Obesitas Akan Sulit Melahirkan?

Meskipun ada bahaya seperti itu, pendekatan terbaik Moms untuk menurunkan berat badan adalah melalui rencana yang konsisten namun bertahap dengan fokus pada perubahan gaya hidup yang lebih sehat.

Penurunan berat badan bertahap adalah yang terbaik untuk tubuh dan bayi Anda.

Menurunkan Berat Badan saat Hamil

5 Risiko Berat Badan Berlebih Saat Hamil, Berbahaya!

Foto: Orami Photo Stock

Jika dokter Anda menganjurkan agar Anda menurunkan berat badan, inilah cara melakukannya dengan aman selama kehamilan dilansir dari Healthline:

1. Cari Tahu Kenaikan Berat Badan Ideal

Selama hamil, ada baiknya Moms mempertanyakan berapa banyak berat badan yang harus dinaikkan dan berapa jumlah makanan yang harus dikonsumsi setiap trimester kepada dokter Anda karena hal ini pun akan berdampak pada perkembangan Si Kecil dalam kandungan.

Ikuti panduan kenaikan berat badan kehamilan ini dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, berdasarkan berat badan Anda sebelum hamil.

2. Kurangi Kalori

Seperti yang diketahui makan lebih banyak kalori daripada yang seharusnya Moms bakar ketika berolahraga adalah penyebab umum kenaikan berat badan.

Dibutuhkan defisit 3.500 kalori untuk kehilangan 1 pon. Selama rentang satu minggu, ini setara dengan sekitar 500 kalori per hari untuk dipotong.

Sebelum Anda memangkas banyak kalori dari diet ini, pastikan untuk mencatat dan mengetahui berapa banyak kalori yang benar-benar Anda makan. Anda dapat berbicara dengan ahli gizi untuk mendiskusikan rencana makanan.

Anda juga dapat mencari label nutrisi untuk makanan dari toko atau restoran untuk mengetahui berapa banyak kalori dalam setiap makanan.

Perlu diingat bahwa ibu hamil harus makan tidak kurang dari 1.700 kalori per hari. Ini adalah minimum dan membantu memastikan bahwa Anda dan bayi Anda mendapatkan cukup energi dan nutrisi secara teratur.

3. Berolahraga 30 menit Setiap Hari

Beberapa ibu hamil takut berolahraga karena takut akan membahayakan bayi mereka. Tapi ini pasti tidak benar.

Berolahraga dapat membantu Anda mempertahankan berat badan, mengurangi cacat lahir, dan bahkan meringankan rasa sakit dan nyeri yang Anda alami selama kehamilan.

Rekomendasi untuk sesi olahraga bagi ibu hamil yaitu 30 menit aktivitas per hari. Jika ini terlalu banyak bagi Anda untuk memulai, pertimbangkan untuk membagi 30 menit menjadi blok waktu yang lebih pendek sepanjang hari.

Baca Juga: 4 Dampak Obesitas Pada Ibu Hamil Bagi Perkembangan Janin

Terlepas dari risikonya, Moms tetap dapat memiliki kehamilan yang sehat jika mengalami obesitas. Tapi, membutuhkan manajemen yang cermat untuk menjaga berat badan, perhatian pada diet dan olahraga, perawatan prenatal teratur untuk memantau komplikasi, dan pertimbangan khusus untuk persalinan dan jangan lupa untuk terus memantau ke dokter terkait kondisi Moms.

Artikel Terkait