2-3 TAHUN
7 Oktober 2020

Waspada Gejala DBD pada Balita, Moms Wajib Tahu!

Muncul ruam di tubuh bisa jadi salah satu gejala DBD pada balita lho Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Debora
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Di musim hujan seperti sekarang ini, demam berdarah dengue (DBD) kembali mengintai. Tidak terkecuali Si Kecil. Selain melakukan pencegahan, penting juga bagi Moms untuk mengetahui gejala DBD pada balita agar ia tidak terlambat ditangani.

Simak penjelasan lengkap mengenai gejala DBD pada balita di bawah ini.

Kesehatan anak, terutama saat usianya masih di bawah lima tahun, tentunya menjadi perhatian orang tua. Balita masih memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga gejala penyakit sebaiknya dideteksi sedini mungkin. Salah satu penyakit yang bisa menyerang balita dan perlu diperhatikan adalah DBD.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menuliskan, DBD disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Virus ini ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi.

Setelah inkubasi virus selama 4-10 hari, nyamuk yang terinfeksi mampu menularkan virus selama sisa hidupnya. Lantas, seperti apa gejala DBD pada balita? Simak pembahasan berikut ini.

Baca Juga: 6 Mitos DBD yang Sering Moms Dengar, Masih Percaya?

Gejala DBD pada Balita

gejala dbd pada balita, balita demam

Foto: Orami Photo Stock

Seseorang yang sudah terinfeksi virus walaupun belum menunjukkan gejala DBD dapat menularkan infeksi, selama 4-5 hari dan maksimum 12 hari melalui nyamuk aedes setelah gejala pertama muncul.

Nah, adapun gejala DBD pada balita biasanya muncul sekitar 1,5-10 hari setelah digigit oleh nyamuk yang terinfeksi. Gejala awalnya bisa hanya dengan flu yang kemudian bisa bertambah menjadi gejala-gejala lainnya.

“Jika kasusnya ringan, gejalanya akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 2-7 hari. Namun, pada kondisi yang sudah parah, demam berdarah bisa berlangsung 3-7 hari setelah tanda-tanda pertama penyakit berubah menjadi gejala yang memburuk,” jelas Dr. Leong Hoe Nam, spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena.

Dilansir dari laman Johns Hopkins Medicine, beberapa gejala DBD pada balita yang bisa terjadi, yaitu:

  • Demam tinggi, bisa mencapai 40 derajat Celcius.
  • Nyeri di belakang mata dan persendian, otot, dan/atau tulang.
  • Sakit kepala berat.
  • Mual dan muntah.
  • Ruam yang muncul pada sebagian besar tubuh.
  • Pendarahan ringan dari hidung atau gusi.
  • Mudah memar.

Gejala DBD pada balita umumnya ringan untuk mereka yang terinfeksi penyakit untuk pertama kali. Anak-anak yang lebih tua, orang dewasa, atau yang pernah mengalami infeksi sebelumnya mungkin akan memiliki gejala yang sedang hingga parah.

Lantas, seperti apa gejala DBD pada balita yang lebih parah?

Baca Juga: 5 Makanan Ini Tepat untuk Anak DBD

Gejala DBD pada Balita yang Parah

gejala dbd parah

Foto: Orami Photo Stock

Meski umumnya tidak ada gejala DBD pada balita yang parah, Moms tetap perlu mendapatkan informasi yang tepat. Sebab, DBD bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Jika tidak segera ditangani, bisa berakibat fatal hingga mengancam nyawa.

Ruam tubuh menjadi indikasi terjadinya DBD. Namun, bila tidak ada ruam, hal ini diidentifikasi sebagai faktor risiko demam berdarah yang parah, sebagian besar karena kegagalan tubuh untuk mengenali penyakit. Infeksi dapat menyebabkan trombosit (fragmen sel kecil yang membentuk gumpalan darah untuk pendarahan) turun secara drastis, yang menyebabkan terjadinya pendarahan di bagian organ dalam, terutama di saluran pencernaan,” ungkap dokter Leong.

Penderita DBD akan mengalami gejala ringan secara teratur selama 2-7 hari. Setelah demam mereda, maka bisa muncul gejala lainnya seperti masalah gastrointestinal seperti mual, muntah, atau nyeri perut yang parah. Masalah pernapasan seperti kesulitan bernapas juga dapat terjadi.

Demam berdarah yang parah berlangsung 3-7 hari setelah tanda-tanda pertama penyakit berubah menjadi gejala yang memburuk. Penanganan yang telat bisa menyebabkan dehidrasi, perdarahan hebat, dan penurunan tekanan darah yang cepat.

Gejala-gejala DBD pada balita ini yang bisa mengancam nyawa dan membutuhkan perawatan medis secepatnya. Jadi, DBD bukan penyakit main-main, ya, Moms!

Baca Juga: Penyebab dan Gejala DBD (Demam Berdarah Dengue), Wajib Diwaspadai!

Penanganan untuk Gejala DBD pada Balita

penanganan dbd pada balita

Foto: Orami Photo Stock

Balita yang mengalami DBD akan memiliki trombosit yang rendah atau trombositopenia. Sebagian besar penderita DBD akan dirawat di rumah sakit, namun apabila gejalanya masih sangat ringan, maka perawatan di rumah juga bisa dilakukan.

Dilansir dari Kids Health, tidak ada pengobatan khusus yang tersedia untuk mengatasi DBD. Jika balita masih alami gejala yang ringan, maka memperbanyak cairan di dalam tubuh bisa dilakukan. Hal ini untuk mencegah dehidrasi dan banyak istirahat.

Obat pereda nyeri dengan asetaminofen juga bisa diberikan untuk meredakan sakit kepala dan nyeri pada tubuh. Namun, hindari obat pereda nyeri seperti aspirin atau ibuprofen, karena dapat membuat pendarahan lebih mungkin terjadi.

Sebagian besar kasus demam berdarah hilang dalam satu atau dua minggu, jadi Moms tidak perlu khawatir.

Sementara itu, apabila Si Kecil dirawat di rumah sakit, biasanya dokter akan memberikan cairan dan elektrolit (garam) intravena (IV) untuk menggantikan cairan yang hilang karena muntah. Pada beberapa kondisi, dokter mungkin harus melakukan transfusi darah.

Semua tergantung pada kondisi masing-masing orang. Terkait hal ini, penting bagi Moms untuk menjaga nutrisi yang masuk ke dalam tubuh balita untuk memastikan ia dapat segera pulih. Selain itu, selalu penuhi cairan di dalam tubuhnya agar ia tidak mengalami dehidrasi.

Baca Juga: Hati-hati! Ini Bahayanya Demam Berdarah Saat Kehamilan

Makanan untuk Mengatasi DBD pada Balita

Ketika trombosit balita masih rendah, hal ini bisa membuat ia merasakan kelelahan hingga pendarahan di hidung dan gusinya. Cara paling mudah untuk meningkatkan kembali kadar trombosit anak yaitu memberikan asupan makanan yang tepat. Terkait hal ini, sebaiknya perhatikan nutrisi yang terdapat dalam makanannya, ya, Moms.

“Makanan yang mampu meningkatkan jumlah trombosit darah termasuk vitamin B12, asam folat, vitamin C, dan zat besi. Jenis-jenis makanan tersebut membantu tubuh membuat dan mempertahankan trombosit dalam darah,” ujar Dr. Preeti Jain, ahli diet senior di Rumah Sakit Action Cancer, New Delhi, India.

Berikut ini beberapa makanan yang dapat Moms berikan kepada Si Kecil:

1. Makanan Mengandung Folat

makanan mengandung folat

Foto: Orami Photo Stock

Folat adalah vitamin B9 yang membantu pertumbuhan sel termasuk trombosit. Folat juga baik untuk kesehatan sel darah. Nah, folat yang ditambahkan ke dalam makanan atau minuman disebut asam folat.

Ada beberapa makanan mengandung folat yang bisa Moms berikan saat anak mengalami DBD, yaitu beragam jenis kacang-kacangan, seperti kacang hitam, kacang panjang, kacang merah, dan kacang hijau. Sayuran berdaun hijau gelap seperti bayam, brokoli, kangkung, dan kubis juga kaya akan asam folat.

Jika balita susah untuk makan sayur, Moms bisa memberikan buah-buahan seperti avokad, jeruk, pepaya, dan pisang untuk membantu mengembalikan kadar trombositnya. Nyatanya, produk olahan susu dan sereal juga diperkaya asam folat. Jadi, sesuaikan dengan pilihan Si Kecil.

2. Makanan Mengandung Vitamin B12

makanan mengandung b12

Foto: Orami Photo Stock

Kekurangan vitamin B2 dalam tubuh bisa menyebabkan rendahnya trombosit. Maka dari itu, ketika Si Kecil mengalami DBD sangat baik untuk memastikan sumber vitamin B12 terpenuhi.

Beberapa makanan hewani seperti daging sapi dan hati sapi, serta telur mengandung vitamin B12. Selain itu, susu almond, susu kedelai, dan sereal juga diperkaya dengan vitamin B12.

3. Makanan Mengandung Vitamin C

makanan mengandung vitamin c

Foto: Orami Photo Stock

Kalau membicarakan tentang vitamin C, pasti langsung tertuju pada fungsinya meningkatkan imunitas tubuh. Tidak hanya itu, vitamin C juga dapat membantu meningkatkan kadar trombosit dalam darah, lho!

Dilansir dari Vitamin C: Its Chemistry and Biochemistry, ada peningkatan jumlah trombosit pada sekelompok kecil pasien yang menerima suplemen vitamin C.

Selain itu, vitamin C bisa didapatkan dari makanan seperti brokoli, jeruk, kiwi, paprika hijau dan merah, stroberi, jambu biji, mangga, nanas, tomat, dan kembang kol. Sebaiknya, konsumsi dalam bentuk segar karena panas dapat merusak vitamin C.

Baca Juga: 7 Obat Alami untuk Mengatasi Demam Berdarah

4. Makanan Mengandung Zat Besi

makanan mengandung zat besi

Foto: Orami Photo Stock

Zat besi juga penting untuk meningkatkan sel darah merah dan trombosit. Studi yang terbit dalam jurnal Pediatric Hematology and Oncology menyebutkan, asupan zat besi terbukti dapat menaikkan kadar trombosit secara signifikan.

Studi ini sendiri sudah dilakukan pada balita hingga remaja. Zat besi banyak ditemukan dalam kacang merah, kacang putih, daging sapi, tofu, biji labu kuning, dark chocolate, dan sereal.

Itulah beberapa makanan yang dapat menaikkan kadar trombosit dan baik untuk dikonsumsi saat balita mengalami DBD. Sebaliknya, selama masa pemulihan, sebaiknya hindari terlalu banyak memberikan anak makanan yang berminyak atau digoreng.

Makanan yang berminyak mengandung banyak lemak yang dapat menghambat pemulihan dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Makanan pedas dan minuman yang mengandung kafein juga sebaiknya dihindari, ya, Moms!

Berikan Si Kecil makanan yang tepat agar pemulihan lebih cepat.

Itulah beberapa hal yang perlu diketahui tentang gejala DBD pada balita, penanganan, serta makanan yang sebaiknya dikonsumsi. DBD dapat dicegah dengan cara yang paling mudah yaitu menjaga kebersihan rumah agar terhindar dari nyamuk Aedes aegypti.

Artikel Terkait